REBONDING, tentu istilah yang ngga' asing lagi. Teknik meluruskan rambut super instan ini emang sangat digandrungi kalangan ABG. Ngga' cuma buat kaum, cewek, para lelakipun ngga' ketinggalan buat ngelurusin mahkotanya. Sebagai sesuatu yang sangat digandrungi, rebonding menjelma menjadi tren yang tak terleraikan.
Banyak cerita-cerita miris tentang praktik rebonding. Kalau tak dikerjakan oleh ahlinya, resiko kerusakan rambut yang berujung kerontokkan menjadi taruhannya. Selain itu, penggunaan bahan kimia untuk kebutuhan rebonding membuka kekhawatiran kerusakan pada kulit kepala. Namun, kekhawatiran paling mendasar adalah beban biaya yang tak tertahankan.
Namanya juga cara instan untuk meluruskan rambut, hasilnya ya tentu tidak permanen. Sekali di-rebonding, maka siap-siaplah menjadi "pasien" salon di sepanjang hidup kamu. Sekali diluruskan, kamu secara rutin harus melakukannya di salon. Kalau berhenti, bisa dibayangkan betapa acaknya rambut kamu yang hidup antara lurus dan tidak lurus. Sekali-dua kali, mungkin ngga' masalah untuk ukuran kantong yang pas-pasan. Namun, kalau udah menjadi sebuah kebutuhan rutinitas, kalau masih ada kebutuhan yang lebih penting buat kamu penuhin, dari awal musti mikir tujuh keliling buat mutusin melakukan rebonding.
Banyak yang terobsesi melakukan rebonding. Alasan utamanya, yah apalagi kalau bukan buat ngikutin tren. Sebagai sebuah gaya hidup, rebonding emang sudah menjadi tren yang menjustifikasikan identitas gaul di kalangan remaja. Sah-sah saja sih negikutin tren, namun buat yang satu ini yang menuntut kamu musti ngorbanin doku, ya mikir-mikir dululah. Kalau tajir sih, ngga' apa-apa. Namun, lantaran ngikut tren, kamu musti mengubah jati diri kamu menjadi manusia super boros, wah itu sebuah pengorbanan yang teramat besar.
Memang, iklan menampilkan betapa indah dan trendinya mereka yang punya rambut lurus di-rebonding. Siapa sih yang ngga' ingin tampil anggun dan menawan di depan orang-orang, manusiawi sekali! Namun, jangan salah memandang sebuah tatanan nilai dari satu sisi saja. Rambut lurus bukan sebuah esensi nilai yang universal tentang keindahan. Toh, di sisi lain, ada yang menjadikan rambut model ikal dan keriting sebagai tren lain. Nah, berabe kan, kalau setiap hari kamu ngabisin waktu dan finansial untuk larut dalam propaganda tren itu.
Ada yang ngga' pede dengan rambut ikal dan keritingnya, kemudian mengambil jalan pintas melakukan rebonding. Padahal, sebenarnya ia lebih indah kalau percaya diri dengan apa yang telah dianugrahi Tuhan kepadanya. Tipe rambut ikal, keriting, atau lurus sebenarnya sudah disesuaiin amat dengan bentuk fisik setiap orang. Cuma, asumsinya saja yang tidak merasa percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Buat tampil pede, ngga' perlulah melakukan perubahan frontal yang justru menjauhkan kamu dari identitas kekhasan kamu sendiri. Kalau kamu punya rambut ikal dan ngga' pedean dengan rambut itu, yang salah bukan rambutnya, namun cara kamu memperlakukannya.
Bukan pilihan bijak kalau sering mengapresiasi diri dengan segala sesuatu yang ada di luar diri kamu. Memang, banyak pilihan ditawarkan untuk melakukan perubahan frontal yang instan terhadap penampilan kamu. Sekali kamu melangkah, maka selamanya akan terbenam dalam kebutuhan instan itu yang merubah kamu menjadi seorang styleholick. A.R. Rizal
Senin, November 26, 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar