Senin, November 26, 2007

Jurus Serius Semesteran


NGGA kerasa ya, seperti baru kemarin aja. Eh, tau-tau udah mau semesteran saja. Kalau udah musimnya, ya kudu siap-siap buat hadapin yang namanya ujian. Bagi kamu yang kelas satu, mungkin sedikit gamang ya, namun kamu yang udah kelas tiga pasti dibikin tegang karena waktu buat ujian akhir alias UAS dan UN udah semakin dekat saja.
Sebelum menghadapin ujian semester, sebelumnya kamu pasti udah nrima yang namanya rapor bayangan. Walaupun namanya bayang-bayang, tapi hasilnya benar-banar nyata lho nunjukkin prestasi belajar kamu. Jadi, jangan anggap remah aja hasil rapor bayangan kamu. Kalau hasilnya buruk, kamu musti ekstra was-was. Kalau hasilnya biasa-biasa saja, wah musti banting stir biar ngga ngecewain nantinya.
Banyak sih yang asal cuek buat hadapin semesteran. Motifnya sih lantaran bukan ujian akhir yang bisa nentuin naik apa tinggal kelas atau lulus atau ngga lulus untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Cuek sih boleh aja asal kamu emang udah matang habis persiapannya. Namun, kalau ngga punya bekal apa-apa, wah bisa-bisa kamu di semesteran nanti dibikin panas-dingin.
Gimanapun, sebesar apapun, yang namanya menghadapi ujian, kamu musti punya persiapan. Nah, apa aja sih yang bisa kamu siapin.

1. Persiapan mental dan spiritual
Ini musti banget lagi. Kamu musti punya persiapan mental, biar ngga gamang menghadapin ujian. Kalau kamu gamang, pastinya otak ngga bisa konsen pada hari H. Persiapan mental ini sangat ditentukan oleh kondisi spiritual kamu. Nah, buat yang satu ini, kamu kudu tingkatin ibadah kamu. Banyak-banyak berdoa, biar tenaga spiritual kamu bisa ekstra habis menghadapin ujian semesteran.

2. Persiapan fisik
Kalau mau ujian, jangan sampai dech terserang virus 4 L alias letih, lesu, lemes dan loyo. Berabe kalau kamu terserang sakit kalau pas ujian. Wah, bisa-bisa ujiannya di tempat tidur lagi ditemanin infus. Nah, buat yang satu ini, dari sekarang kamu musti jaga-jaga kesehatan. Makan-makanlah makanan yang begizi, terutama yang mengandung banyak serat. Istirahat musti teratur. Yang penting juga sih, olahraga, biar badan sehat wal'afiat.

3. Belajar bukan menghafal
Yang satu ini emang terkesan basi. Kalau udah musim ujian, ya semua pada suntuk-suntuk menghafal. Sampe bergadang lagi. Pake SKS, sistem kebut semalam gitu. Yang satu ini mah jangan dibiasain. Mustinya kamu lebih konsen buat belajar. Belajar bukan sekadar menghafal lho. Belajar itu musti terukur dan berkelanjutan. Dari sekarang dan semestinya musti kapan saja, kamu harus selalu belajar. Pokokke belajar dan belajar.

4. Rajin membahas soal-soal
Yang namanya ujian, pastinya kamu dihadapin yang namanya soal-soal. Nah, mengenal soal itu sama lho seperti falsafah cinta: ngga kenal, maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta! Buat terbiasa mengerjakan soal-soal, kamu kudu banyak berhubungan dengan soal-soal itu. Gunakan sedikit waktumu setiap hari buat membahas soal-soal yang berhubungan dengan pelajaran sekolahan kamu. Kalau udah terbiasa, dijamin bikin soalnya jadi gampang aja.

5. Kelompok belajar
Kalau waktunya udah masif, agaknya sulit buat kamu untuk mengejar ketertinggalan pelajaran kamu. Kalau udah gitu, kamu harus pandai-pandai berbagi dengan teman. Jangan hanya punya teman dugem yang bisa buat senang-senang. Kamu juga harus punya geng buat belajar bersama. Waktu yang tersedia ini kudu kamu manfaatin untuk belajar bersama. Kalau belajar bersama, kan kamu bisa berbagi. Ada materi pelajaran yang tidak sempat kamu ngertiin bisa kamu tanyain kepada teman yang udah ngerti. Kalau udah berbagi gitu, acara belajarnya jadi tambah asyik.

6. Jangan pernah mimpi bikin azimat
Ada juga sih orang-orang yang berpikiran picik, malas belajar, maunya cari jalan pintas saja. Ngga pake 'berguru' ke gunung keramat, eh udah pake bikin azimat. Jangan pernah dech bermimpi sukses ujian dengan mengandalkan azimat. Kalau pikiran itu ada terbetik dari awal, kamu harus ngebuangnya jauh-jauh. Lho, sekadar kepikiran aja kok dilarang? Hm... jangan salah, pikiran itu bakal bikin kamu malas belajar. Nah, kalau penyakit malasnya keterusan, kapan kamu bisa pintar. A.R. Rizal

Persiapan Biar Sukses UN

UJIAN itu sebuah keniscayaan dalam proses belajar-mengajar. Ngga cuma pelajaran, bahkan hidup ini sendiri sarat dengan ujian. Kadang ada musibah bahkan kebahagiaan sendiri bisa menjadi ujian, ujian sejauh mana kita tidak terlena dengan kebahagiaan itu. Nah, yang terpenting dari ujian itu adalah bukan sebenarapa besar dan kecilnya, namun sejauh mana kesiapan dalam menghadapinya. Yang namanya menghadapi ujian, siapa saja kudu siap kapan dan dimana saja.
Ujian nasional itu kan cuma sekali sepanjang setiap tingkatan pendidikan kamu. Padahal, setiap hari kamu selalu dihadapkan yang namanya ujian harian, ujian mingguan, ujian mit semester dan ujian-ujian lainnya. Nah, aneh dong kalau hanya buat hadapain UN yang cuma beberapa mata pelajaran di antara seambrek mata pelajaran yang kamu pelajari musti gamang tujuh keliling.
Berapapun banyaknya mata pelajaran yang diujikan, berapapun besaran nilai yang musti dicapai, yang terpenting itu adalah kamu bisa menyiapkan diri semaksimal mungkin. Ibarat tentara lagi terjun ke medan perang, mereka yang gamang biasanya yang ngga punya persiapan dan malas latihan. Kalau udah mempersiapkan segala bekal yang dibutuhkan, maka seorang prajurit itu akan siap bertempur di medan perang. Nah, daripada bingung mikirin UN, mendingan mulai dari sekarang kamu mengasah kesiapan kamu. Hm...apa-apa saja sih persiapan yang musti kamu lakoni.
1. Persiapan psikis
Banyak orang yang berpikiran untuk menghadapi UN yang perlu itu adalah mempersiapan dir secara teknis, terutama terkait dengan pemahaman terhadap mata pelajaran yang diujikan. Boleh-boleh saja sih, namun itu sebenarnya bukan faktor yang utama. Logikanya, bagaimana bisa konsen belajar, kalau batin pada ngga tenang. Jadi, tanpa persiapan secara psikologis, berapapun persiapan teknis kamu, hasilnya nanti ngga bisa maksimal. Jadi, pertama-tama persiapkan diri kamu secara psikologis. Bagaimana sih mempersiapkan diri secara psikologis.
a. Memperbanyak berdoa
Senjata terbesar itu adalah doa. Doa akan membuat batin dan pikiran menjadi tenang, dengan demikian apapun usaha yang kamu lakukan bisa berjalan dengan lancar. Berdoa tentunya ngga sembarang doa. Bagaimana caranya biar doa kita terkabulkan, ya musti memperbanyak ibadah. Mustahil doa akan terkabulkan sementara kita ogah-ogahan buat berhubungan dengan Tuhan.
b. Tenangkan pikiran
Hilangkan semua kegamangan di dalam dirimu. Ah, mata ujiannya kan udah nambah, mana kuat. Wah, pasti ngga lulus nih..! Pikiran-pikiran semacam ini jangan pernah dech. Jangan mati sebelum berperang! Kalau ada suara-suara bimbang yang takut dengan UN, itu adalah orang-orang yang frustasi dan kamu bukan bagian dari mereka. Ujiannya aja belum dimulai, kok udah takut duluan, kan lucu namanya.
c. Mohon restu ortu
Kata orang, doa orangtua itu makbul lho. Jangan lupa selalu minta doa restu ortu kamu biar sukses di UN. Nah, dengan doa restu itu kamu akan dapat spririt yang bakal memompa semangat juang kamu buat sukses di UN. Ortu pastinya bakal doain yang baik-baik aja buat anaknya. Selain ortu, doa restu juga bisa kamu minta ke keluarga lainnya, misalnya adik-kakak, nenek, paman ampe tetangga-tetangga. Dukungan moril dari orang-orang terdekat kamu ini sangat besar artinya bagi kesuksesan kamu.

2. Persiapan secara teknis
Kalau mental kamu udah tenang, nah saatnya kamu mempersiapkan diri secara teknis dengan meningkatkan kemampuan belajar kamu, terutama dalam memahami mata pelajaran yang di-UN-kan. Bagaimana sih caranya?
a. Belajar pantang mundur
Klise, ya begitulah adanya. Banyak yang frustasi menghadapi pembengkakkan mata pelajaran yang diujikan di UN lantaran emang malas mempelajari mata pelajaran itu. Ngga ada orang yang diciptakan bodoh, kecuali mereka yang sejak lahir memiliki keterbelakangan mental. Kebodohan itu lebih banyak diciptakan karena kemalasan. Ingat juga, ngga ada orang yang mati mendadak karena rajin belajar, artinya kamu bisa untuk terus memaksimalkan kemampuan belajar kamu. Buat belajar yang giat ini kamu emang musti meyakinkan diri, meluangkan waktu yang banyak, bahkal perlu mengorbankan waktu-waktu kamu buat berleha-leha. Ingat, kamu harus tanamkan yang terpenting saat ini adalah sukses di UN, makanya kamu harus kerahkan segala daya dan upaya kamu untuk ke arah sana.
Banyak cara sukses belajar. Kamu bisa memilih cara yang pas buat kamu. Yang terpenting tentunya lebih konsen ngikutin guru menerangkan pelajaran di depan kelas. Kalau udah ada PR, jangan ada alasan lain untuk tidak mengerjakannya. Kamu juga harus membiasakan diri membaca buku pelajaran, bahkan mengulang-ngulang pelajaran tahun lalu, karena kemungkinan itu akan keluar di UN. Udah gitu, latihlah dirimu mengerjakan berbagai soal-soal, sehingga pas UN kamu udah punya bekal yang banyak biar ngga gamang. Biar acara belajar kamu makin asyik, ya bikinlah belajar kelompok. Dengan demikian, kamu bisa saling mengevaluasi diri dengan teman-teman sekelompokmu. Buat nambah-nambah, ya bolehlah ikut privat dan les.

3. Persiapan fisik
Yang satu ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Kalau sakit pas ujian, bisa-bisa semua bekal kamu yang udah disiapkan mati-matian jadi ngga berguna. Mulai sekarang, jagalah kesehatan kamu. Makan makanan bergizi, perbanyak olahraga, hindari aktivitas yang ngga ada manfaatnya seperti bergadang untuk sekadar dugem sama teman-teman.
Kalau udah pantengin semua persiapan itu, artinya kamu udah ready lahir-batin. Tinggal bagaimana kamu siapin dir di hari H. Buat yang satu ini, ada hal-hal yang perlu kamu perhatikan.
Pertama, pahami peta kemampuan kamu. Jangan terlalu gegabah, kamu merasa harus mampu menjawab semua soal. Kamu harus menghitung kemampuan kamu pada soal-soal tertentu yang harus kamu prioritaskan kamu selesaikan. Jangan karena terobsesi untuk menjawab semua soal, kamu jadinya mengabaikan soal-soal yang lebih bisa kamu jawab sementara waktu untuk menjawab soal terus berjalan. Alhasil, kamu sendiri yang rugi.
Kedua, hati-hati mengisi lembar jawaban. Semua jawaban soal diproses secara komputer. Jadi, salah-salah mengisi lembar jawaban bisa-bisa kamu jadi dirugikan.
Ketiga, hadapilah dengan tenang. Rasa gamang, takut pas ujian pastilah ada. Namun, jangan berlama-lama larut dalam kecemasan itu. Yakinkan diri kamu bahwa kamu bisa menjawab semua soal. Semuanya dibikin enjoy saja, sehingga kamu bisa menjawab soal-soal dengan baik. A.R. Rizal

Be Natural

REBONDING, tentu istilah yang ngga' asing lagi. Teknik meluruskan rambut super instan ini emang sangat digandrungi kalangan ABG. Ngga' cuma buat kaum, cewek, para lelakipun ngga' ketinggalan buat ngelurusin mahkotanya. Sebagai sesuatu yang sangat digandrungi, rebonding menjelma menjadi tren yang tak terleraikan.
Banyak cerita-cerita miris tentang praktik rebonding. Kalau tak dikerjakan oleh ahlinya, resiko kerusakan rambut yang berujung kerontokkan menjadi taruhannya. Selain itu, penggunaan bahan kimia untuk kebutuhan rebonding membuka kekhawatiran kerusakan pada kulit kepala. Namun, kekhawatiran paling mendasar adalah beban biaya yang tak tertahankan.
Namanya juga cara instan untuk meluruskan rambut, hasilnya ya tentu tidak permanen. Sekali di-rebonding, maka siap-siaplah menjadi "pasien" salon di sepanjang hidup kamu. Sekali diluruskan, kamu secara rutin harus melakukannya di salon. Kalau berhenti, bisa dibayangkan betapa acaknya rambut kamu yang hidup antara lurus dan tidak lurus. Sekali-dua kali, mungkin ngga' masalah untuk ukuran kantong yang pas-pasan. Namun, kalau udah menjadi sebuah kebutuhan rutinitas, kalau masih ada kebutuhan yang lebih penting buat kamu penuhin, dari awal musti mikir tujuh keliling buat mutusin melakukan rebonding.
Banyak yang terobsesi melakukan rebonding. Alasan utamanya, yah apalagi kalau bukan buat ngikutin tren. Sebagai sebuah gaya hidup, rebonding emang sudah menjadi tren yang menjustifikasikan identitas gaul di kalangan remaja. Sah-sah saja sih negikutin tren, namun buat yang satu ini yang menuntut kamu musti ngorbanin doku, ya mikir-mikir dululah. Kalau tajir sih, ngga' apa-apa. Namun, lantaran ngikut tren, kamu musti mengubah jati diri kamu menjadi manusia super boros, wah itu sebuah pengorbanan yang teramat besar.
Memang, iklan menampilkan betapa indah dan trendinya mereka yang punya rambut lurus di-rebonding. Siapa sih yang ngga' ingin tampil anggun dan menawan di depan orang-orang, manusiawi sekali! Namun, jangan salah memandang sebuah tatanan nilai dari satu sisi saja. Rambut lurus bukan sebuah esensi nilai yang universal tentang keindahan. Toh, di sisi lain, ada yang menjadikan rambut model ikal dan keriting sebagai tren lain. Nah, berabe kan, kalau setiap hari kamu ngabisin waktu dan finansial untuk larut dalam propaganda tren itu.
Ada yang ngga' pede dengan rambut ikal dan keritingnya, kemudian mengambil jalan pintas melakukan rebonding. Padahal, sebenarnya ia lebih indah kalau percaya diri dengan apa yang telah dianugrahi Tuhan kepadanya. Tipe rambut ikal, keriting, atau lurus sebenarnya sudah disesuaiin amat dengan bentuk fisik setiap orang. Cuma, asumsinya saja yang tidak merasa percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Buat tampil pede, ngga' perlulah melakukan perubahan frontal yang justru menjauhkan kamu dari identitas kekhasan kamu sendiri. Kalau kamu punya rambut ikal dan ngga' pedean dengan rambut itu, yang salah bukan rambutnya, namun cara kamu memperlakukannya.
Bukan pilihan bijak kalau sering mengapresiasi diri dengan segala sesuatu yang ada di luar diri kamu. Memang, banyak pilihan ditawarkan untuk melakukan perubahan frontal yang instan terhadap penampilan kamu. Sekali kamu melangkah, maka selamanya akan terbenam dalam kebutuhan instan itu yang merubah kamu menjadi seorang styleholick. A.R. Rizal